Diambil dari buku The Way of Kings karya Brandon Sanderson, chapter 58:
“And so, does the destination matter? Or is it the path we take? I declare that no accomplishment has substance nearly as great as the road used to achieve it. We are not creatures of destinations. It is the journey that shapes us. Our callused feet, our backs strong from carrying the weight of our travels, our eyes open with the fresh delight of experiences lived.
In the end, I must proclaim that no good can be achieved of false means. For the substance of our existence is not in the achievement, but in the method.”
Diriku terlempar kembali ke masa ospek himpunan, kurang lebih lima belas tahun yang lalu.
Pertanyaan yang sering muncul dari senior, “Mana yang lebih penting, hasil atau proses?”
Tidak ada jawaban yang tepat pada saat itu. Apapun jawaban kami dibalas dengan teriakan.
Aku teringat bahwa kata-kata yang keluar dari mulutku sebenarnya berbeda dengan apa yang aku pertanyakan sendiri di dalam kepalaku.
“Sama pentingnya, Bang. Hasil yang baik hanya akan dicapai lewat proses yang baik juga.”
Kenaifan masa muda.
Saat ini aku lebih bisa melihat, bahwa proses yang baik belum tentu memberikan hasil yang baik. Paling tidak, baik di sini maksudnya sesuai dengan ekspektasi.
Begitu pun hasil yang “baik” juga seringkali tetap bisa dicapai walaupun prosesnya tidak baik.
Keduanya bukan otomatis merupakan korelasi.
Contoh kasus. Mana yang lebih kamu pilih ketika akan mengerjakan soal ujian? Belajar dengan keras dan disiplin namun mendapat nilai jelek, atau mencontek lalu mendapat nilai bagus?
Kebanyakan orang mungkin akan memilih jawaban yang pertama.
Namun bagaimana jika dihadapkan dengan realita hidup, ketika terkadang kita sudah bekerja keras tetapi tetap kesulitan untuk memenuhi kebutuhan bulanan? Walau sudah menahan diri dimarahi atasan, kerja lembur sampai malam, pulang pergi kerja harus berhadapan dengan macet atau kereta yang penuh sesak.
Bagaimana dengan pengusaha yang susah payah merintis bisnis dari nol namun berulang kali gagal.
Tidak sedikit orang yang lebih memilih hasil, tanpa peduli cara yang harus diambil untuk mendapatkannya.
Quote dari Sanderson begitu mengena untukku.
Kita bukanlah makhluk yang terikat pada tujuan. Justru perjalanan lah yang membentuk hidup kita. Kaki yang kapalan, punggung yang harus kuat karena menanggung beban, mata yang terbuka oleh pengalaman baru.
Aku selalu berdebar tiap mendengar cerita dari owner perusahaan tempatku bekerja sekarang.
Bagaimana bisnis ini dimulai, bukan dari nol melainkan dari minus karena hutang. Bagaimana kerja keras, jatuh bangun, serta perjuangan yang terus dilakukan. Bagaimana selama perjalanan banyak orang yang meremehkan atau mengecilkan.
Apa yang membuatku kagum bukanlah hasil yang sudah dipetik. Bukan omzet atau laba yang telah dicapai. Bukan seberapa besar perusahaan ini telah tumbuh.
Yang membuatku kagum adalah betapa bangganya, betapa bersyukurnya, betapa puasnya sang owner menjalani ini semua. Aku yakin bahwa apabila Tuhan bertanya padanya, “Kamu mau kembali ke awal dan menjalani ini semua lagi?” Beliau akan menjawab “Ya” tanpa berpikir dua kali.
Aku juga ingin merasakan itu.
Ketika nanti di akhir kehidupanku aku melihat ke belakang, ke semua pilihan yang telah kuambil, semua jalan yang kulalui, semua titik tertinggi maupun terendah, aku bisa berbangga, bersyukur, dan merasa puas.

