Basa Basi
Orang Indonesia suka basa-basi.
Beraneka ragam topik dilontarkan demi menghindari keheningan.
Aku sendiri tidak masalah sebenarnya kalau saling diam. Tapi terkadang kondisi yang mengharuskanku untuk ikut berbasa-basi.
Cuaca adalah bahasan andalanku. Netral, tidak langsung mengarah personal, dan dari situ aku bisa mengukur gambaran kasar lawan bicaraku ini adalah tipe yang irit kata atau suka mengobrol.
Namun, dari kebanyakan orang yang kukenal, basa-basi yang sering digunakan adalah mengenai keluarga.
Kapan mau menikah. Suami atau istri kerja di mana. Sudah hamil atau belum. Anak sudah berapa.
Se”kepo” itu terhadap privasi orang.
Sebagian mungkin tidak masalah apabila ditanyai, tapi terkadang kita akan bertemu dengan orang yang bisa tersinggung.
Misalnya ketika kemarin ada tamu datang ke kantorku, dua laki-laki dan satu perempuan. Topik tentang banjir beralih ke Singkawang, beralih ke Imlek dan Cap Go Meh, beralih ke kembang api, dan diakhiri bahasan apabila beli sesuatu yang mahal tanpa sepengetahuan pasangan.
Si ibu ini berkata, “Lebih baik minta maaf ya daripada minta izin.”
Setelah tertawa, ada yang kemudian bertanya kepada si ibu, “Kalau Ibu anaknya sudah berapa sekarang?”
Sambil tersipu dijawab, “Belum ada.”
Belum puas, sang penanya kembali melontarkan pertanyaan, “Oh, kalau suami…” Si Ibu berkata pelan, “Saya belum menikah.”
Aku tidak menyalahkan si penanya karena memang ibu ini cukup senior sehingga membuat dirinya berasumsi.
Pernyataan maaf mungkin cukup dan tidak akan membuat situasi menjadi canggung.
Tapi kemudian ada yang menyaut, “Semoga segera mendapat jodoh.”
Ibu itu hanya bisa tersenyum.
Orang Indonesia memang suka basa-basi. Tapi banyak yang lebih suka lagi untuk mencampuri urusan pribadi.
Bukan sekali dua kali aku mendengar cerita orang yang tersinggung karena “dikejar-kejar” supaya cepat menikah, atau ditanyai kenapa belum punya anak, atau bahkan dihakimi karena pilihan yang diambil tidak sesuai dengan kehidupan si penanya.
Apakah ini sudah menjadi ciri khas?
Memang sulit dan mungkin aku pun pernah kelepasan melakukannya. Tapi, ketimbang melukai perasaan orang, aku berusaha untuk selalu tetap menggunakan basa-basi andalan, “Wah, kayaknya sebentar lagi hujan, ya.”
Walaupun langit panas terik dan hanya ada sedikit awan.

